Loading...

User blogs

Tag search results for: "dasar dan kekuatan pernikahan kristen"


Sejak awal penciptaan, Allah memang menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambarNya dan Allah memberkati mereka. Allah memberikan mandat untuk beranak cucu dan bertambah banyak, memenuhi bumi dan menaklukkan serta berkuasa atas ciptaan Allah (Kej. 1:27-28). Bagi laki-laki dan perempuan masing-masing secara khusus, Allah menjadikan Hawa sebagai penolong yang sepadan dan merupakan bagian dari kehidupan Adam karena diambil dari tulang dan dagingnya (Kej. 2:18, 21-24).


Dan juga Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Farisi, “Tidakkah kamu baca bahwa, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula mereka menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firmanNya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah disatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat. 19:4-6).


Kebenaran-kebenaran Firman Tuhan ini adalah dasar dari pernikahan Kristen. Pernikahan bukanlah ide manusia melainkan merupakan inisiatif Allah, dan Allah menjadikan pernikahan sebagai gambaran hubungan Kristus dengan jemaat (Ef. 5:22). Semua yang diciptakan Allah adalah baik, termasuk pernikahan, yang adalah juga baik dalam rancanganNya. Namun ketika manusia berbuat diluar rancanganNya itu, dosa masuk sehingga pernikahan mengalami kerusakan.


Kita semua baru saja dikejutkan oleh pengesahan pernikahan sejenis di semua negara bagian Amerika Serikat (AS). Meskipun AS bukan negara pertama yang melegalkan pernikahan sejenis, namun pengaruhnya begitu besar. John Piper gembala jemaat Bethlehem Baptist Church di AS memberikan sebuah peryataan, “Yang mengejutkan dan membuat kita sedih bukanlah dosa homoseksual itu sendiri karena dosa ini memang sudah ada dari sejak dulu, namun adalah proses yang membuat dosa ini dianggap sebagai sesuatu yang normal dan dilindungi oleh hukum Negara.”


Manusia secara terang-terangan dan terbuka telah memberontak terhadap rancangan Allah. Sesuatu kebenaran diputarbalikkan sehingga yang benar menjadi salah dan yang salah dilegalkan menjadi benar. Pengesahan perlindungan hukum terhadap pernikahan sesama jenis ini bukan saja berarti penolakan terhadap pernikahan, namun juga tindakan perusakan tatanan kehidupan umat manusia. Manusia membentuk pernikahan dengan caranya sendiri yang sesat, dan oleh sebab itu Allah menyerahkan kepada hawa nafsu yang memalukan dan pikiran-pikiran yang terkutuk (Rm. 1:27-32).


Dalam keadaan dunia yang semakin rusak, arti pernikahan Kristen makin tampak berbeda karena dibangun dengan sebuah janji yang tidak bisa dibatalkan antara suami istri dan dengan Allah sendiri. Namun di tengah-tengah masyarakat yang mementingkan kebebasan individu, sebuah komitmen dirasakan sebagai suatu penghalang. Manusia memilih tidak mau terikat dan ketika banyak persoalan yang muncul akan cenderung untuk meninggalkan komitmen yang telah dibuat sebelumnya sehingga perceraian dan ketidaksetiaan dalam pernikahan begitu besar jumlahnya dan terus meningkat dari waktu ke waktu. Itu sebabnya, Allah mengambil inisiatif untuk membuat perjanjian dengan manusia melalui Kristus, sehingga kita menerima pemulihan dan pemeliharaan dalam kasih karuniaNya. Hanya melalui darah Kristus saja, kita menerima pengampunan dosa dan hidup yang baru (2 Kor. 5:17). Pernikahan menjadi kuat jika di dalamnya ada pengampunan dan penerimaan terhadap pasangan dan pengampunan serta penerimaan itu hanya dapat terjadi oleh anugerahNya.


Dalam sebuah pernikahan dalam Kristus, Tuhan menjadi pusat dalam kehidupan keluarga, dan janji penikahan bukan hanya janji antara manusia dengan manusia, tetapi juga memiliki pejanjian dengan Tuhan. Dengan demikian, pernikahan dalam Kristus memiliki dua macam perjanjian, yaitu:


1. Perjanjian Tuhan dengan manusia


* Mencerminkan kasih, anugerah dan kemurahan Tuhan. 

* Allah adalah setia sebagai pemelihara perjanjian (covenant keeper) dan sekaligus pemrakarsa perjanjian (covenant maker). 

* Tuhan akan memampukan manusia untuk memelihara perjanjian, meskipun manusia cenderung tidak setia.


2. Perjanjian manusia dengan manusia


* Perjanjian ini dibuat untuk saling mengikat dalam sebuah hubungan pernikahan

* Suami dan istri yang terikat dalam perjanjian wajib untuk mengusahakan kelanggengan hubungannya.

* Masing-masing saling menyerahkan seluruh miliknya termasuk harta benda bahkan tubuhnya (1 Kor. 7:3-4).

* Melalui perjanjian berarti juga matinya kehidupan pribadi dan sekarang bukan lagi “aku” melainkan “kita”.


Keluarga yang masuk dalam perjanjian pernikahan memiliki kekuatan yang luar biasa untuk dapat mempertahankan pernikahannya, karena Tuhan sendiri yang menjadi bagian dari perjanjian itu. Melalui RohNya, Tuhan akan senantiasa memampukan kita untuk mempertahankan perjanjian ini. Tetapi, bagaimana jika ketidaksetiaan muncul di tengah-tengah hubungan pernikahan?


Pelajaran yang luar biasa indah mengenai kesetiaan Allah dicontohkan melalui keluarga  Hosea, seorang nabi yang diperintahkan Tuhan untuk menikah dengan perempuan sundal dan memperanakkan anak-anak sundal (Hos. 1:2). Hosea menikah dengan Gomer dan memperoleh tiga orang anak, dan disuruh Allah memberikan nama-nama yang menggambarkan keadaan Israel.


Melalui anak yang pertamanya yaitu Yisreel, Allah memperingatkan akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel. Dari anak yang kedua yaitu Lo-Ruhama, Allah menyatakan bahwa tidak lagi menyayangi dan sama sekali tidak akan mengampuni mereka. Dan melalui lahirnya anak ketiga, Lo-Ami, Allah menyatakan bahwa Israel bukanlah umat Allah dan Tuhan bukanlah Allah mereka.


Hukuman bukanlah akhir dari ketidaksetiaan. Hosea tetap terus mencintai Gomer sebagai balasan atas ketidaksetiaannya, sebagai gambaran Allah yang tidak pernah berhenti setia dan terus mengasihi Israel. Allah berjanji untuk melakukan pemulihan bagi Israel yang tidak setia dan Tuhan menjadikan Israel sebagai isteri untuk selama-lamanyaa dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang (Hos. 2:18-19). Selanjutnya, Tuhan bahkan memberikan janji berkatNya, bahwa Ia akan mendengar, menyayangi dan mengembalikannya Israel sebagai umat Allah (Hos. 2:20-22).


Bagaimanapun keadaan hubungan suami istri, bahkan ketika dikhianati karena pasangan yang tidak setia pada perjanjian pernikahan, pernikahan dalam Kristus adalah pernikahan dalam perjanjian (covenant) dengan Allah sendiri. Saat kita tetap mempertahankan perjanjian ini, Allah yang akan bertindak dalam waktu dan caraNya, sampai keluarga mengalami pemulihan. Dan ketika Allah memulihkan, seberapa berat dan parah pun kondisi pernikahan itu, Tuhan bisa memakainya untuk menjadi kesaksian dan pengharapan bagi dunia yang sudah rusak.


Bagi yang belum menikah dan akan membentuk sebuah keluarga baru, pahamilah dan berpeganglah pada kebenaran mengenai janji pernikahan sebagai pondasi ketika akan membentuk rumah tangga yang baru. Bagi yang sudah berkeluarga dan saat ini mungkin sedang ada persoalan yang rumit dalam hubungan pernikahan sebagai suami istri, ingatlah kembali perjanjian pernikahan yang pernah diucapkan sebagai komitmen bersama, dan percaya kepada Kristus sebagai pusat dari kehidupan keluarga yang sanggup mengembalikan hubungan tersebut, bahkan memulihkannya menjadi lebih indah, karena kita akan dipakai sebagai jawaban bagi keluarga lain yang membutuhkan.