Loading...

User blogs

Tag search results for: "kesepakatan dalam pernikahan"


Setiap kali memasuki tahun baru, setiap keluarga sudah selayaknya melakukan evaluasi mengenai apa yang sudah dilakukan, dan membuat rencana serta memperbaharui komitmen di tahun yang baru. Proses ini membantu setiap keluarga untuk memasuki tahun baru dengan pengharapan-pengharapan dan komitmen agar bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi sesuai dengan panggilan hidup masing-masing.


Agar semua rencana dan komitmen tersusun sesuai kehendak Tuhan dan bisa terlaksana dengan baik, kita harus menempatkan Kristus sebagai pusat, termasuk pusat dari keluarga dan pusat dari hubungan kita dengan pasangan. Tantangannya adalah bagaimana  suami-istri dapat bersepakat dan bersehati, sehingga rencana-rencana yang sesuai dengan kehendak tuhan tersebut Tuhan buat menjadi berhasil.


Tuhan menghendaki agar kita menjalani hidup dalam prinsip kesepakatan dan kesehatian, baik dalam membangun keluarga dan terlebih dengan pasangan, seperti yang ditulis dalam Amos 3:3, “Apakah dua orang dapat berjalan seiring kalau tidak bersehati?” Sayangnya, kondisi pernikahan hari ini sangat memprihatinkan, karena justru begitu banyak keluarga lupa menerapkan atau bahkan mengabaikan prinsip penting ini, sehingga timbul konflik karena beda pendapat, putusnya komunikasi, dan bahkan banyak yang berakhir dengan perceraian.



Apa itu kesekapakatan?

Kesepakatan menurut Alkitab adalah keharmonisan bersama yang menciptakan suatu simfoni (Mat 18:19-20). Kondisi harmonis terjadi ketika pasangan melebur bersama dan saling menguatkan, sehingga kesatuan itu membentuk sebuah simfoni yang indah. Ini dapat terjadi jika perbedaan dalam kepribadian dimanfaatkan untuk saling melengkapi, bukannya untuk saling menyerang. Keharmonisan ini dapat digambarkan sebagai sepasang sepatu:


• bentuknya tak persis sama, namun SERASI


• saat berjalan tak pernah kompak persis berdampingan, tetapi SATU TUJUAN


• tak pernah bertukar posisi, namun SALING MELENGKAPI


• tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, selalu SEDERAJAT


• jika yang SATU HILANG, yang lain TIDAK BERARTI.


Ketika konflik terjadi di dalam hubungan suami-istri, masing-masing pihak cenderung mempertahankan ego dan memandang pasangan sebagai “musuh”. Kita sungguh tertipu, karena yang seharusnya menjadi musuh bersama suami-istri adalah iblis, bukan satu sama lain. Tuhan memberikan pasangan yang sepadan, berarti cocok dan tepat untuk saling menolong. “Dua orang lebih baik dari seorang diri karena kalau mereka jatuh, yang seorang akan mengangkat temannya. Juga kalau tidur berdua, mereka menjadi panas dan bila seorang dapat dialahkan, dua orang dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” (Pkh. 4:9-12).

 


Hal-hal apa saja yang perlu disepakati dalam pernikahan?

Prinsipnya adalah semakin banyak hal yang disepakati, kehidupan berkeluarga akan semakin kompak dan harmonis. Kesepakatan harus  dibangun sesuai dengan rencana Allah, sebab di luar itu yang terjadi adalah kesepakatan manusia yang justru menjauh dari Allah. Karena itu, hal pertama yang tentu harus disepakati adalah iman, sebagai bagian yang paling penting dan menjadi dasar pernikahan. Kesatuan tidak bisa terjadi antara gelap dan terang (2 Kor.  6:14), sehingga kelahiran baru menjadi syarat mutlak agar pernikahan dapat dipersatukan dalam Kristus.


Selanjutnya untuk terus bertumbuh dan membangun iman yang kuat dalam berkeluarga, tempat beribadah dan komunitas merupakan hal yang perlu disepakati bersama. Gereja yang sehat akan membangun jemaat menjadi murid Kristus yang sejati, dan pelayanan bersama suami-istri sebagai satu daging perlu terus dibangun agar dampaknya semakin luar biasa sesuai rencana Tuhan.


Hal yang berikutnya adalah keuangan. Uang merupakan hal yang penting dan merupakan faktor yang sering menjadi penyebab perceraian. Alkitab bahkan menuliskan bahwa di mana harta seseorang berada, di situ juga hatinya berada (Mat. 6:21). Artinya, keuangan yang satu akan membuat hati suami dan istri bersatu, dan demikian pula sebaliknya. Untuk dapat membangun kesepakatan dalam hal keuangan, suami-istri perlu membangun sistem pengelolaan keuangan bersama, sehingga rasa aman terbangun dan sekaligus keluarga terjaga dari pencobaan karena uang. Keuangan bersama akan membuat pasangan terus saling berkomunikasi dalam mengambil keputusan demi kepentingan bersama. Bagi pasangan yang baru menikah, keputusan untuk membangun keuangan bersama akan membentuk kebiasaan untuk saling bergantung dan bersepakat. Kesepakatan dalam keluarga akan menjadi dasar agar berkat dan kehidupan diperintahkan oleh Tuhan (Mzm. 133:1-3).


Yang selanjutnya adalah persoalan waktu. Waktu adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli dan tidak dapat terulang. Banyaknya waktu yang kita luangkan menunjukkan prioritas kehidupan kita. Seorang yang menempatkan pekerjaan sebagai prioritas yang terpenting dan paling berharga akan meluangkan dan memprioritaskan waktunya untuk pekerjaan di atas segalanya, termasuk di atas waktu untuk keluarga dan bahkan waktu bersama Tuhan. Ketika memutuskan untuk membangun rumah tangga, suami-istri harus memiliki komitmen untuk memberikan waktu kepada pasangan dan anak-anak. Untuk dapat membangun kesepakatan, “me time” harus berubah menjadi “we time”, karena hanya dengan memberikan waktu yang berkualitaslah kita dapat membangun suatu komunikasi yang terbuka dan saling membangun. Penerimaan akan perbedaan dalam diri pasangan membutuhkan waktu dan kerendahan hati. Hal lain dapat diwakilkan, namun memberikan waktu berarti memberikan diri kita pribadi dan ini tidak dapat diwakilkan kepada siapapun.


Ada banyak lagi hal-hal lain yang perlu disepakati dalam membangun keluarga, seperti nilai-nilai identitas keluarga, pembagian peran dan tanggung jawab sebagai suami-istri atau pun sebagai ayah-ibu, serta pola interaksi dengan keluarga besar masing-masing setelah menikah.


Khusus mengenai keluarga besar, dalam tradisi beberapa suku, kedekatan keluarga besar menjadi prioritas yang penting dan kadang menjadi sumber konflik suami-istri. Ketika seorang anak menikah, ia membentuk keluarga barunya dengan nilai-nilai sendiri, namun anak yang telah dewasa itu tetaplah bagian dari keluarga besar, dan orang tuanya sering menuntut untuk tetap menjadi prioritas. Kesepakatan untuk membagi waktu kepada keluarga besar memang adalah hal yang penting, namun yang menjadi prinsip di dalam sebuah pernikahan adalah bahwa suami-istri menjadi prioritas utama di atas hubungan-hubungan lainnya, termasuk hubungan dengan orang tua dan saudara kandung.



Bagaimana cara membangun kesepakatan sebagai suami-istri?

Ketika suami-istri membuat janji pernikahan, Tuhan mempersatukan mereka secara utuh, dan kesatuan ini meliputi roh, jiwa dan tubuh. Kesepakatan dalam pernikahan perlu dibangun melalui keintiman dalam ketiga aspek tersebut, yaitu:


Membangun persekutuan roh

Suami-istri perlu membangun kesepakatan melalui doa bersama. Dalam doa bersama, Roh Kudus akan melembutkan hati masing-masing sehingga mampu untuk menerima perbedaan, dan bahkan dengan rendah hati dapat mengampuni kesalahan dan menerima kekurangan serta pribadi pasangan apa adanya. Masing-masing pihak memberikan diri untuk dipimpin oleh Roh Kudus sehingga tidak akan menuruti keinginan daging (Gal. 5:16-18). Berdoa bersama dengan pasangan yang telah dipersatukan oleh Allah sendiri akan menghadirkan kuasa yang berlipatganda. Satu orang akan mengalahkan seribu, dua orang akan mengalahkan berlaksa-laksa, karena Tuhanlah yang memberi kemenangan (Ul. 32:30, Yos. 23:10).


Membangun persekutuan jiwa

Dalam jiwa kita terdapat pikiran-pikiran, keinginan-keinginan dan juga emosi yang begitu kuat menguasai kehidupan kita. Di sinilah terletak semua keinginan daging, yang jika tidak dipimpin oleh Roh Kudus akan membuat kita sulit bersepakat dengan pasangan. Persekutuan dalam jiwa dilakukan dengan membangun komunikasi yang terbuka, jujur dan tulus. Ketika dosa masuk dalam kehidupan suami istri, hal yang pertama terjadi adalah masing-masing pihak menjadi malu dan tertutup, sama dengan ketika  Adam dan Hawa tidak taat pada Allah dan mereka menjadi malu dan saling menutup diri di hadapan Allah. Dosa membuat seseorang tidak dapat terbuka dan komunikasi terputus sehingga ketidak normalan akan mulai terjadi. Dosa membuat suami-istri saling menyalahkan dan menyerang. Hubungan suami istri yang harmonis, akan menjadi tertutup ketika dosa mulai masuk sehingga akhirnya tidak terjadi kesepakatan. Untuk memulihkannya dibutuhkan keterbukaan, karena keterbukaan adalah awal dari pemulihan jiwa yang terluka. Di dalam keterbukaan, anugerah dan kuasa Allah sanggup memulihkan hubungan yang sudah rusak. Darah Kristus menjadi jalan pendamaian sehingga terbangun kembali hubungan yang baik dan indah. Sebagaimana Kristus telah mengampuni orang berdosa, maka  kita harus saling mengampuni pasangan agar ada damai sejahtera di dalam keluarga. Ingatlah, sebaik apapun pasangan kita, ada begitu banyak kesalahan dan kekurangan yang perlu kita ampuni dan terima.


 

Membangun persekutuan tubuh

Keintiman hubungan yang paling dalam terjadi di dalam pernikahan, karena suami-istri dipersatukan secara utuh dalam roh, jiwa dan tubuh. Hal ini bukan berarti bahwa untuk membangun kesepakatan kita harus memperbanyak hubungan intim suami-istri, namun hubungan yang intim akan membangun kehidupan seks suami-istri yang sehat, dan dengan demikian membangun persekutuan tubuh. Seks adalah bidang yang diserang dengan luar biasa oleh iblis, karena kerusakan dalam hubungan intim suami-istri akan merusak salah satu dasar hubungan keluarga. Ketika seseorang menikah, tubuhnya akan menjadi milik pasangannya, dan Alkitab (Paulus) menuliskan bahwa suami-istri harus memenuhi kewajiban dalam melayani kebutuhan seksual  pasangannya. Paulus menasihatkan agar suami-istri jangan saling menjauhi, agar terhindar dari godaan iblis karena suami-istri tidak tahan bertarak (1 Kor. 7:3-6). Selain itu, jika kita memiliki masa lalu yang buruk, sebagai suami-istri, inilah waktunya untuk kita belajar terbuka dan saling mengampuni serta menerima pasangan kita. Pengampunan dan penerimaan akan menutup celah bagi suami-istri untuk berbuat dosa, berselingkuh dan berkhianat terhadap perjanjian pernikahan. Allah menyediakan berkat yang luar biasa ketika pasangan dipulihkan, sehingga kehadiran Allah, suka cita dan damai sejahtera mengalir di dalam keluarga kita.


Semuanya, termasuk pernikahan dan keluarga, adalah bagi kemuliaan Tuhan

Kesepakatan suami-istri di dalam pernikahan dan keluarga menjadi dasar penggenapan doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus sendiri, yaitu “...jadilah kehendakMu di bumi, seperti di surga...” Tuhan merancang dan menciptakan keluarga dengan maksud yang kekal, agar kehidupan suami-istri menjadi gambaran hubungan Kristus dan jemaat. Bangunlah kesatuan dan kesepakatan di dalam pernikahan dan keluarga Anda, agar Allah memakai hidup keluarga Anda demi banyak orang mengenal dan memuliakan Allah, “sebab segala sesuatu dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:36).