Loading...

THEOLOGI REFORMED DAN JODOH TAKDIR | Forum

Topic location: Forum home » General » Teologi
Admin Dec 2 '15

Berkaitan dengan pemahaman bahwa JODOH DITAKDIRKAN? orang-orang yang salah mengerti dan tidak mempelajari doktrin Reformed dengan tepat, menganggap bahwa doktrin Reformed mengajarkan konsep takdir ini. Kesalah-pengertian doktrin kedaulatan Allah dan doktrin keselamatan, membuat orang menyangka ajaran jodoh di tangan (baca: ditetapkan) Tuhan merupakan ajaran Kristen, khususnya merupakan turunan dari konsep Reformed tentang kedaulatan Allah.

 

Kalau demikian, maka orang-orang Reformed diajarkan untuk secara pasif menerima pasangan hidupnya, jika ternyata terjadi kesalahan, ataupun pernikahan yang tidak bahagia, maka itu pun merupakan nasib yang harus diterima dari Tuhan.

 

Ajaran ini terkadang membuat seorang pria berani mendatangi seorang gadis cantik dan berkata kepadanya, ‘Allah telah menetapkan saya harus menikah dengan kamu.’ Itu membuat sang gadis terperangah dan takut, karena bukankah ini sudah ditetapkan oleh Allah? Tetapi dalam hatinya, ia merasa tidak menyukai pria itu, karena ternyata karakter dan kehidupan pria itu begitu tidak cocok dengan dirinya. Di sini sebenarnya gadis itu sudah ‘dijebak’ oleh pria tadi, karena memang tidaklah demikian adanya. Gadis yang didatangi pria yang berkata seperti itu dapat membalas, ‘Allah justru menetapkan agar saya tidak dekat-dekat denganmu apalagi menikah dengan kamu.’ Ini sekadar untuk mematahkan pola theologisnya yang tidak sesuai dengan Alkitab. Kita tidak boleh sembarang mengatakan ‘Allah menetapkan ...’ karena penetapan Allah adalah sesuatu yang terjadi di dalam kekekalan.

 

Kesalahan konsep ini semakin nyata jika suatu saat terjadi perceraian. Seorang bisa dengan ringan dan sembrono mengatakan bahwa perceraian itu juga terjadi karena kehendak Tuhan, karena kalau Tuhan tidak menghendaki, ia tidak mungkin bisa bercerai. Padahal konsep ini jelas bertentangan dengan konsep Alkitab. Kalau dia menikah lagi dengan gadis lain, maka kembali ia mengatakan bahwa itupun sudah suratan takdir, atau istilah Kristen yang lebih populer adalah ‘sudah merupakan penetapan Allah’ yang tidak bisa diganggu-gugat. Kalau Allah tidak menetapkan, bagaimana mungkin ia bisa menikah lagi? Padahal jelas bagi iman Kristen, tindakan ini adalah tindakan perzinahan yang harus dihukum, karena Alkitab menyatakan bahwa menikah lagi yang bukan karena cerai meninggal adalah perbuatan zinah (Matius 5:32; Matius 19:9; Markus 10:12; Lukas 16:18). Termasuk, jika seseorang menganggap semua urusan pernikahan adalah ketetapan kekal Allah yang tidak bisa tidak harus terjadi, maka ketika seseorang berselingkuh, juga bisa dianggap bahwa perselingkuhan itu pun adalah ketetapan Allah yang tidak bisa ia tolak, sehingga ia harus melakukan perselingkuhan itu sebagai takdir atau penetapan Allah. Jelas pikiran dan ajaran seperti ini adalah ajaran sesat yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, dan juga bukan diajarkan dalam Theologi Reformed.

 

 

EKPOSISI: KEJADIAN 24:44

 

Ketika dinyatakan salah, para penganut ‘takdir pasangan hidup’ sering mengajukan ayat favorit untuk mendukung argumen mereka, yaitu dari Kejadian 24:44, yang mengatakan ‘dan ia menjawab: Minumlah dan untuk unta-untamu juga akan kutimba air, dialah kiranya isteri, yang telah Tuhan tentukan bagi anak tuanku itu’ [NIV: and if she says to me, Drink and I’ll draw water for your camels too, let her be the one the Lord has chosen (pilihkan) for my master’s son]. Istilah ‘ditentukan’ atau ‘dipilih’ inilah yang menjadi masalah. Ketika seseorang mencoba melakukan penafsiran dengan menggunakan bahasa turunan, di mana sudah terjadi distorsi pengertian dan keterbatasan penerjemahan, sangat rawan terjadi kesalahan arti. Untuk itu kita tidak boleh mengandalkan satu kata seperti istilah ini, untuk mengerti suatu konsep, kecuali didukung oleh suatu eksegesis yang kuat dan ketat sekali. Istilah ini berasal dari padanan kata x:ykiîho-rv,a] (asher-hokiah), yang terdiri dari kata rv,a] (asher) dan hkY (yakach). Seluruh pengertian dari kedua kata ini perlu kita lihat, karena jika kita mengerti semua pengertiannya, kita baru mengerti mengapa di NIV digunakan kata ‘memilih,’ sedangkan di LAI menggunakan kata: ‘menentukan.’ Kata asher ini berupa partikel relatif, artinya secara umum adalah: ‘karena,’ ‘jika,’ ‘dia (whom),’ yang ketika dirangkai dengan kata hokiah menjadi gabungan dengan pengertian: ‘melangkah’ atau ‘memimpin’ atau ‘mengarah kepada;’ juga bisa diartikan ‘mengarah’ atau ‘memiliki kemujuran.’ Kata hokiah (yakach), bentuk hiphil perfek maskulin ketiga singular, memiliki arti: (1) membicarakan atau mendiskusikan bersama; (2) muncul atau terlihat sebagai suatu yang benar; (3) terindikasi benar; (4) ditetapkan, ditunjukkan; (5) memberikan penilaian / penghakiman. KJV/NKJV menggunakan ‘appointed’ yang berarti ‘diarahkan’ atau ‘ditujukan.’ Di sini gabungan kedua kata ini memberikan gambaran pengarahan bagi seseorang. Jadi penggabungan dua kata ini, memang memiliki sifat yang paling keras, yang dapat diterjemahkan sebagai‘ditentukan.’ Tetapi juga bisa dikatakan diarahkan kepada yang benar. Atau seperti NIV menerjemahkan sebagai Tuhan memilihkan, memberikan penilaian atau penghakiman-Nya. Tetapi yang pasti: Tidak satu pun dari pengertian kata ini, berarti Allah telah menentukan jodoh bagi Ishak. Konsep ini sama sekali tidak menyentuh suatu pengertian takdir yang telah ditetapkan Allah di dalam kekekalan, tetapi lebih kepada pengertian: setelah melihat dari sekian banyak pilihan, kemudian kita ditentukan untuk mengambil satu di antaranya. Hal ini sejajar dan sangat sinkron dengan pergumulan hamba Abraham (diduga Eliezer dari Damaskus), bahwa ia sungguh-sungguh meminta Tuhan memberikan hikmat kepadanya untuk mengerti siapa gadis yang paling tepat bagi tuannya (ayat 14)1, dan ayat 44 merupakan kesimpulan dari hasil pergumulannya. Di situ sama sekali ia tidak memikirkan bahwa Ribka adalah gadis yang sudah ‘dipredestinasikan’ untuk Ishak, tetapi benar merupakan hasil pergumulannya bersama Tuhan, berdasarkan pimpinan Tuhan, untuk mendapat orang yang tepat sesuai kehendak Tuhan.

 

Di bagian bawah hal 134 ada catatan kaki sebagai berikut:

1 ‘Maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.’ (ayat 14b). Dan ini yang diproklamasikan secara nyata oleh hamba Abraham itu: ‘Terpujilah TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang tidak menarik kembali kasih-Nya dan setia-Nya dari tuanku itu; dan TUHAN telah menuntun aku di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini!’ (ayat 27).

 

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan dari apa yang dipelajari di atas, kita harus menggabungkan dua hal penting untuk mengerti pasangan hidup kita, yaitu (1) kita perlu bergumul dan melihat kriteria yang tepat tentang siapa pasangan hidup kita, mencarinya di tempat yang tepat. Dengan demikian barulah kita menemukan pasangan hidup yang sepadan dengan kita, dan (2) kita harus meminta pimpinan Tuhan, karena kita tidak mampu melihat dan mengarahkan diri dengan tepat. Kita perlu bergumul bersama Tuhan, sehingga tidak mengambil keputusan yang salah. Terkadang kita kurang bijak dan kurang cermat untuk mengerti orang lain, sehingga mudah sekali kita tertipu. Tanpa kita bersandar dan bergantung pada pimpinan Tuhan, perjalanan kita tidak akan berhasil.” - ‘Indahnya Pernikahan Kristen’, hal 129-135.

 

The Forum post is edited by Admin Dec 2 '15
Corry Dec 5 '15
Malam,


Saya mau tanya. Klu misalnya pria cerai krn istrinya ada pria lain. Dan istrinya menikah dengan pria tsb. Apakah si suami yg d tinggal istrinya boleh menikah lagi ?

Admin Dec 6 '15

Kami sering mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti: “Saya bercerai karena alasan ini dan itu. Dapatkah saya menikah kembali?” - atau – “Saya telah bercerai dua kali – pertama-tama karena perzinahan pasangan saya, kedua kalinya karena ketidakcocokan. Saya sekarang berpacaran dengan seseorang yang telah bercerai tiga kali – pertama-tama karena ketidakcocokan, kedua kalinya karena karena dia menyeleweng, yang ketiga karena isterinya menyeleweng. Dapatkah kami menikah?” 

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat sulit untuk dijawab karena Alkitab tidak menjelaskan dengan detail mengenai apa yang boleh dan tidak bagi seseorang menikah lagi setelah bercerai. 

Apa yang kita ketahui secara pasti adalah Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16). Adalah rencana Allah bahwa pasangan yang sudah menikah mempertahankan pernikahan mereka selama pasangan hidupnya masih hidup (Kejadian 2:24; Matius 19:6). Satu-satunya alasan khusus bagi penikahan kembali setelah perceraian jika adanya perzinahan (Matius 19:9) – dan ini pun masih diperdebatkan di antara orang-orang Kristen. 

Kemungkinan lain adalah pasangan yang belum percaya meninggalkan pasangan yang sudah percaya (1 Korintus 7:12-15). Namun, bagian Alkitab ini tidak secara khusus menyinggung tentang pernikahan kembali, hanya berbicara mengenai nasihat supaya tetap tinggal dalam ikatan pernikahan. 

Bagi saya, nampaknya penyiksaan secara fisik, seksual atau emosi merupakan alasan yang kuat untuk bercerai, termasuk untuk menikah kembali. Namun, Alkitab tidak secara khusus mengajarkan hal ini.

Mengenai ini, kita tahu pasti tentang dua hal. (1) Sekali lagi, Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16). (2) Allah itu Pemurah dan Pengampun. 

Setiap perceraian merupakan hasil dari dosa, baik dari salah satu pasangan maupun kedua-duanya. Apakah Allah mengampuni perceraian? Sudah pasti! 

Perceraian tidak lebih sulit diampuni dibanding dengan dosa-dosa lainnya. Pengampunan untuk semua dosa tersedia melalui iman di dalam Yesus Kristus (Matius 26:28; Efesus 1:7). 

Jika Allah mengampuni dosa perceraian, apakah ini berarti Saudara bebas untuk menikah kembali? Bukan berarti begitu. 

Kadang-kadang, Allah memanggil seseorang untuk melajang (1 Korintus 7:7-8). Melajang tidak boleh dipandang sebagai kutukan atau hukuman, namun sebagai kesempatan untuk melayani Allah dengan lebih sepenuh hati (1 Korintus 7:32-36). 

Firman Tuhan menyatakan bahwa lebih baik menikah daripada hangus oleh hawa nafsu (1 Korintus 7:9). Mungkin, prinsip ini dapat diterapkan pada pernikahan kembali setelah bercerai.

Jadi, dapatkah atau patutkah Saudara menikah kembali? Saya tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Pada akhirnya hal itu adalah antara Saudara dengan calon pasangan, dan yang paling terpenting adalah dengan Allah. 

Satu-satunya nasehat yang dapat saya berikan: Saudara perlu berdoa untuk hikmat untuk memahami apa yang menjadi kehendak Allah bagi Saudara (Yakobus 1:5). 

Berdoalah dengan pikiran terbuka dan dengan sungguh-sungguh meminta Allah menaruh kehendakNya dalam hati Saudara (Mazmur 37:4) dan ikuti pimpinanNya. Ini nasihat terbaik yang dapat saya berikan.



Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi saya (jangan menjadi patokan), saya pernah menikah dengan seorang wanita yang bahkan tadinya masih punya suami. Si wanita ini memiliki suami tetapi sudah pisah selama 8 tahun, si wanita meninggalkannya karena suami selingkuh. tetapi karena waktu itu saya terlanjur cinta (mungkin cinta buta), jadi berusaha untuk mendapatkan si wanita ini. ada beberapa pendeta yg setuju, ada sebagian tidak setuju saya menikahi wanita ini. 

pdt. yang setuju mengatakan bahwa yang terpenting bukan masa lalu seseorang tetapi adalah bagaimana sekarang kedua belah pihak apakah sudah siap menikah lagi & siap berkomitmen utk membangun rumah tangga yang takut Tuhan. 

akhirnya saya pun membantu mengurus perceraian calon isteri saya secara hukum negara (tetapi dengan cara yang benar).

Dan yg terpenting adalah komitmen pribadi saya kpd Tuhan, bahwa sy menikah adalah karena sy ingin membangun hidup rumah tangga yg bahagia & itu mahal harganya & perlu perjuangan.

komitmen saya adalah :

- saya mau membahagiakan istri saya dengan segala kekuatan saya

- saya mau mengasihinya seperti Kristus telah mengasihi jemaat (bahkan memberikan nyawanya)

- saya mau setia bahkan meskipun pasangan saya tidak setia

(namun utk bisa bertahan dalam komitmen itu, kami masih terus dibimbing oleh banyak orang yg sudah menang melewatinya & terus belajar)

Kurang lebih seperti itu komitmen saya kpd Tuhan & puji Tuhan hingga istri saya di panggil Tuhan saya masih menghidupi apa yg menjadi komitmen saya.



Demikian jawaban dari kami, mudah-mudahan bisa memberi pencerahan. Jbu