Loading...

Jerry Bertemu Trisya | Forum

Topic location: Forum home » General » Kesaksian
Admin Dec 2 '15

Kesaksian ini tentang bagaimana kami berdua bertemu, saling mengetahui bahwa kami adalah jodoh dari Tuhan dan menikah.

Jerry and Trisya

Kami pertama kali bertemu sekitar tahun 2002 dalam sebuah retret di Lembah Karmel, Cipanas. Pada waktu itu kami hanya mengenal sebatas teman jauh dan saya masih memiliki hubungan dengan orang lain dan Trisya sedang melewati pergumulan berat setelah putus dari pacarnya yang sudah berjalan selama 8 tahun. Retret itu membawa dampak yang besar atas hidup kami masing-masing dan menjadi titik balik pertobatan bagi saya. Setelah itu, kami tidak pernah berkomunikasi dan menjalani hidup masing-masing.

Pada retret itu, saya dan pacar saya saat itu bersama-sama menerima Tuhan dalam hidup kami dan bertobat dari melakukan hubungan seks pra-nikah. Masuknya Tuhan membawa perubahan yang besar pada kepribadian kami masing-masing dan tidak lama kemudian kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sudah berjalan selama empat tahun secara baik-baik dan kami masih terus berkomunikasi di tahun-tahun setelahnya sebagai teman.

Pada tahun 2005, Tuhan memanggil saya untuk meninggalkan karir di dunia perbankan (baca ceritanya disini). Setelah keluar dari pekerjaan, Tuhan memberikan beban untuk bergabung dengan ministry yang bernama Immanuel Yerusalem (IY) yang tengah dirintis oleh empat perempuan, yaitu kakak kandung saya dan tiga temannya, termasuk diantaranya adalah Trisya. Walau awal mulanya saya tidak yakin bahwa bergabung dengan organisasi Kristen adalah ide yang baik, tapi Tuhan menegaskan bahwa itu adalah jalan saya, dan akhirnya saya bergabung sebagai staff full-timer yang tidak digaji. Dalam masa-masa ini saya mempunyai banyak sekali waktu untuk mendalami firman dan Tuhan banyak membukakan misteri panggilan hidup saya. Salah satu pewahyuan/rhema terbesar yang saya terima pada masa ini adalah Tuhan akan memakai saya seperti Yakub. Saya sama sekali tidak memikirkan tentang pasangan hidup karena ingin sepenuhnya fokus pada Tuhan, dan selain itu saya masih merasakan lelahnya putus dari suatu hubungan yang berjalan selama empat tahun.

Selama bekerja di ministry, saya terus mendengar ajaran bahwa hanya ada satu cara menemukan pasangan hidup dari Tuhan, yaitu melalui konfirmasi dari orang lain. Ajaran itu mengatakan bahwa kalau orang lain tidak ada yang bisa mengkonfirmasi, maka itu bukan jodoh dari Tuhan. Sesuatu mengatakan di hati saya bahwa Tuhan tidak se-sempit itu, bahwa Ia bisa melakukan apa saja tanpa dibatasi oleh logika manusia… tapi saya sendiri juga tidak yakin seperti apa bentuknya… maka saya tanya langsung ke sumbernya, yaitu Tuhan.

Tuhan cepat menjawab ketika saya menanyakan apakah benar Dia begitu terbatas dalam konteks pasangan hidup. Jawaban-Nya tidak sesingkat ‘Ya’ atau ‘Tidak’ , tapi dalam konteks yang lebih luas. Jawaban-Nya datang dalam bentuk rhema tentang kebebasan didalam Dia yang banyak tercermin dari tulisan-tulisan Paulus, dan tentang kerjasama antara Tuhan dengan manusia dari kisah Hana di 1Samuel1 dan kisah 1 domba hilang dan 99 domba selamat di Matius 18 : 12-14. Dari semua firman yang dibukakan-Nya itu, saya sadar ada dua hal yang Ia ingin sampaikan pada saya, yaitu pertama, Ia ingin terlebih dulu saya sepakat memberikan hidup saya untuk kerjasama dengan Dia mencari domba-domba-Nya yang hilang. Kedua, Ia akan menunjukkan pada saya bahwa Dia bukan Tuhan yang terbatas, Dia bisa bekerja dengan cara yang misterius dan tidak bisa diduga oleh manusia. Jawaban saya untuk hal yang pertama adalah “Ya Tuhan, saya berikan hidupku untuk pergi bersamaMu mencari domba-domba itu.”. Dan untuk yang kedua saya menjawab, “Ya, silahkan Tuhan, aku mau melihat kebesaranMu!”

Beberapa bulan setelah itu, Tuhan berbicara sesuatu yang mengagetkan. Saya masih ingat sekali detil momen terjadinya dan kata-kata persisnya. Terjadi ketika saya sedang ngobrol dengan ibu saya sambil mengemudikan mobil Peugeot 405 di jalan raya gandaria, Jakarta Selatan, tepatnya di lampu merah gandaria, kami sedang menunggu lampu hijau dideretan pertama mobil-mobil, ketika tiba-tiba suara Tuhan bergema kencang sekali di hati saya! Suara Tuhan itu berkata, “Pilihlah satu dari antara anak-anak perempuanKu.” Dalam satu detik, pikiran saya langsung bisa mengerti bahwa yang Ia maksudkan adalah tiga rekan kerja saya di Ministry Immanuel Yerusalem tempat saya bekerja saat itu. Tentunya kakak kandung saya tidak termasuk. Tuhan minta saya memilih satu dari antara tiga anak rohaninya.

Jelas reaksi pertama pikiran saya adalah bingung, apa benar ini Tuhan atau bukan. Saya gumulkan dalam doa dan puasa, dan Tuhan kembali berbicara mengkonfirmasi diriNya. Ia mengangkat kembali rhema tentang panggilan hidup saya yang seperti Yakub. Yakub harus memilih satu diantara anak-anak perempuan Laban, majikannya, begitu juga saya harus memilih satu dari tiga anak rohani kakak saya,yang secara kiasan adalah ‘majikan’ saya karena dia adalah pendiri ministry tempat saya bekerja. Karena Tuhan sudah dengan jelasnya berbicara, maka saya pun membawa hal ini dalam hati saya dan berhati-hati sekali untuk tidak menceritakan pada siapa pun karena dengan mudahnya dapat disalah-pahami. Keyakinan saya adalah, kalau memang Tuhan mau beracara, maka pasti didepan Ia akan membuat semuanya jadi jelas.

Ministry kami terus berkembang dan jumlah anggota baru terus bertambah. Kami semakin sibuk mengikuti acara seperti bazaar, kunjungan yatim piatu, retret, dll. Saya bisa melihat Tuhan memakai semua aktifitas itu untuk membuka kepribadian masing-masing tiga perempuan kepala ministry ini. Beberapa bulan berselang, Tuhan kembali mengingatkan untuk mengambil keputusan dan saya berdoa mengatakan bahwa saya memilih Trisya. Tidak ada yang terjadi setelah saya menyampaikan keputusan tersebut, kami semua bekerja seperti biasa dan saya tidak menceritakan apa pun pada orang lain. Saya merasa sudah melakukan bagian saya dan tinggal tunggu Tuhan melakukan bagian-Nya, dan Ia benar bergerak.

Karena beberapa staff full-timer yang lain mulai bekerja di dunia sekuler, kakak saya selaku pimpinan utama dari ministry memberikan tanggung jawab kepada saya dan Trisya untuk menjalankan divisi marketing dan divisi kerajinan tangan yang kami produksi untuk menggalang dana. Frekuensi komunikasi kami menjadi semakin sering dan hubungan kami menjadi semakin dekat. Hal ini sebetulnya cukup menakutkan bagi saya karena saya masih terus menyimpan rahasia saya sendiri dan menunggu Tuhan melakukan sesuatu. Hubungan pertemanan tersebut saya jalani dengan sangat hati-hati.

Ternyata, Tuhan sebetulnya sudah bekerja, hanya saya baru mengetahuinya belakangan. Ternyata dari momen saya membuat keputusan, Tuhan memberikan sebuah mimpi kepada Trisya. Dia bermimpi sedang berjalan disebuah gedung dan tiba-tiba saya menghampiri dia dan berlutut melamar dia sambil menyodorkan sebuah cincin kawin. Tidak bisa lebih jelas lagi untuk menjadi sebuah konfirmasi! Tapi lucunya, karena kami sama-sama tidak menceritakan apa yang terjadi, kami diam-diam saja. Trisya mencatat mimpi ini dalam diarynya dan satu-satunya orang yang mengetahui adalah kakak saya karena Trisya minta didoakan. Tuhan juga memberikan konfirmasi kedua pada Trisya dalam doa, Tuhan berkata bahwa Trisya adalah seperti seorang Rahel. Karena tidak tahu tentang perkataan Tuhan tentang saya sebagai Yakub, perkataan ini membuat Trisya berpikir bahwa ia akan sulit mempunyai keturunan. Hal ini pun terbukti benar karena setelah menikah, kami tidak diberikan keturunan selama 2 tahun.

Seiring dengan frekuensi komunikasi dan hubungan yang semakin dekat, akhirnya kartu-kartu ini terbuka. Trisya akhirnya memutuskan untuk menceritakan mimpinya pada saya, dan dalam ketakjuban, saya pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi. Karena konfirmasi yang diberikan begitu kuat dan tidak mungkin dibuat-buat, kami menjadi yakin bahwa Tuhan benar telah berbicara dan kami harus bersatu didalam-Nya. Sejak saat itu kami berjalan bersama, dan pada awal tahun 2008 Tuhan mengisyaratkan bahwa waktunya telah tiba untuk kami menikah. Kami tidak pernah punya “tanggal jadian”, tidak pernah ada momen saya meminta dia jadi pacar (nembak), dan kami resmi menikah pada bulan September 2008 (baca juga kesaksian kami menikah tanpa uang).

Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa hal pasangan hidup itu tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu menjadi bagian dari sesuatu gambar yang lebih besar yaitu panggilan hidup kita.Kita tidak bisa secara khusus hanya mencari pasangan hidupnya saja, kita harus mencari gambar besarnya. Saat kita menemukan panggilan hidup, kemungkinan besar tidak lama kemudian kita akan menemukan pasangan hidup kita. Seperti seorang prajurit mengambil senjata yang sesuai setelah ia mengetahui medan pertempuran yang akan ia hadapi, begitu juga kita mendapatkan pasangan hidup yang sepadan yang dapat menopang kita untuk mencapai medan pertempuran yang akan kita masuki. Jadi pasangan hidup itu tidak pernah tentang YA atau TIDAK, tapi tentang APA panggilan hidupmu dan orang seperti APA yang perlu berada disampingmu.

Mengenai bagaimana cara Tuhan berbicara, itu adalah misteri yang setiap dari kita harus temukan sendiri-sendiri. Nggak bisa nebeng atau ikut-ikutan pola orang lain. “Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur” – begitu kataNya di Ayub 33:14-15. Saya mendapat cara dengan memilih, seperti Yakub atau Hosea, belum tentu anda akan begitu juga. Ada juga teman saya yang mengetahui pasangan hidupnya melalui mimpi orangtuanya dan mentor rohaninya. Ada lagi kenalan yang Tuhan minta dia menikahi seorang perempuan yang sama sekali tidak dicintainya. KUNCINYA  : Jangan fokus pada (calon) pasangan hidupnya (si ceweknya or cowoknya-bikin pusing), jangan juga fokus pada polanya (cara Tuhan konfirmasi, dll), fokus cari gambar besar panggilan hidupnya. Things never happen twice the same way.  Carilah Tuhan sedemikian rupa sampai semua konsep-konsep berpikir kita sama sekali hilang dan yang tersisa hanya kepercayaan yang sepenuhnya pada apapun yang Ia akan tunjukkan. Tuhan bisa membuat suara-Nya sejelas dentingan gelas asalkan pikiran anda tidak penuh dengan suara-suara berisik.

Apa Tuhan selalu mengkonfirmasi ? Sejauh pengalaman saya selama ini, Yes kalau ada suatu titik kita tidak yakin dan kita tanya padaNya, maka Tuhan akan memperjelas. Sama seperti kalau kita bicara dengan seorang teman baik di telepon dan suaranya tidak jelas, kita bertanya , “Tadi ngak jelas, boleh diulangi?”. Tapi kalau Tuhan sudah berkali-kali bicara dan kita-nya yang nggak nangkap-nangkap, itu masalah yang lain lagi. Itu artinya kualitas dari hubungan dan keintiman kita dengan Tuhan perlu ditingkatkan terlebih dahulu sebelum bisa tercapai komunikasi dua arah yang jelas.

Apakah ada kehendak bebas (free will) ? Ya jelas! Apakah free-will itu salah ? Tidak. Kita bebas memilih sendiri pasangan hidup, mau pilihan kita sendiri, atau pilihan Tuhan, asalkan kita siap menanggung apa pun konsekuensi yang timbul dari keputusan kita. Sebagai mentor yang membimbing pasangan-pasangan pra-nikah di gereja kami, menurut saya setiap dua orang yang dengan yakin memilih menghadapi suka-duka dan badai bersama-sama sampai mati selalu patut mendapatkan apresiasi dan penghargaan tertinggi. Bagi anak-anak muda yang masih jauh dari usia pernikahan, saya selalu mengatakan untuk rajin-rajin membina hubungan dengan Tuhan dan menemukan panggilan hidup sedini mungkin. Saat misteri panggilan hidup terbuka, maka pasangan hidup hanya tinggal sejauh satu langkah kaki saja.

Semoga kesaksian ini memberkati. Boleh baca juga tulisan “Pasangan Hidup Dari Tuhan” Seri 1 danSeri 2 yang merupakan rangkuman dari khotbah sharing kami kepada komunitas Youth dan menjadisalah satu tulisan top ranking di google search.

Jerry & Trisya.

The Forum post is edited by Admin Dec 2 '15